Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 April 2009

Money Politik dalam Konteks Budaya "Pekewuh" di Indonesia

Money Politik sepertinya sulit lepas dari ajang demokrasi yang begitu hingar bingar saat ini (walaupun saya adem ayem saja). Beberapa waktu kemarin aku ditelepon ditanya apakah saya akan menggunakan hak pilih saya atau tidak. Kalau mau menggunakan saya akan dikasih uang sebagai balasan memilih. Lho sekarang kalau milih dibayar ya ?.usut punya usut ternyata saya disuruh milih caleg tertentu sebagai imbal bayarannya.

bagi saya sih nggak ngefek lawong saya netral aja kok. Tapi dari hasil pantauan saya ternyata budaya "pekewuh" itu berpengaruh cukup besar dikalangan pedesaan. Orang-orang dipedesaan merasa sungkan pada caleg yang sudah ngasih uang tapi nggak milih dia. Biasanya sih gerilya ngasih duwit kayak gini dilancarkan pada akhir-akhir masa hampir pemilu biar "orangnya" ingat kali ya siapa yang ngasih duwit terakhir (paling banyak).

Selasa, 24 Maret 2009

Debat nggak nyambung soal BLT

Kebetulan kemarin nonton TV debat dua orang tentang BLT (Bantuan Langsung Tunai). Seorang dari partai P yang kontra dengan kebijakan dan seorang lagi dari partai D yang pro kebijakan. Saya tidak sedang menkritik kebijakan BLT, cuma saya lihat ada yang lucu diperdebatan itu.

Yang dari partai D dengan serius menjelaskan kenapa pemerintah "mengucurkan BLT" mulai dari menjelaskan kalau BLT itu sementara dan hanya bagi mereka yang tidak mampu. BLT itu digunakan untuk memberi rakyat kita sebagian uang makan sambil menunggu hasil-hasil program lain (seperti kredit UMKM dll itu lho) bisa berjalan. Lha kalau itu blom jalan bisa habis lagi itu dananya buat makan bukan buat usaha.

Yang dari partai P ini yang aneh, ngomongnya kok nggak nyambung sama pembahasannya. Sepertinya ada yang namanya "pokoknya" BLT itu seperti membuat rakyat kita mengemis dll yang seolah-olah orang tersebut memberikan pendapat bukan dalam rangka diskusi. Yang partai D ngomong gini dia ngomong yang lain (nggak nyambung). Bahkan ketika ditanya kalau begitu menurut partai P apa yang harus dilakukan, jawabannya pun sangat abstrak.

Mau diskusi atau mau menjustifikasi sih ?
[saya tidak sedang kampanye, netral, ini cuma unge-uneg saya aja kok]

Kampanye sembako murah dalam sebuah dilema

Sembako murah sekarang sedang menjadi tren kampanye beberapa partai politik, bahkan ada yang memakai “kontrak politik” segala. Katanya sih kalau harga sembako murah maka rakyat bisa hidup “lebih sejahtera”. Apakah benar demikian ?

Dipandang dari konsumen, adanya sembako murah tentu saja akan meningkatkan kemampuan membeli atau bagi mereka yang pas-pasan uangnya untuk membeli sembako bisa menabung untuk keperluan dikemudian hari. Tapi menurut saya itupun tidak akan cukup kalau dari “rakyat” sendiri tidak memahami prioritas yang harus dilakukan. Gimana coba kalau sembakonya murah eh ngrokoknya malah tambah. Bagi para produsen sembako, adanya sembako murah akan menyebabkan penurunan keuntungan. Contohnya petani, saat harga sembako sekarang saja penghasilan mereka pas-pasan sekali apalagi harga diturunkan bisa jadi tidak untung bahkan merugi.

Ada partai yang beralasan kalau yang dimaksud sembako murah itu bukan menjual sebagai contoh beras dengan harga yang murah akan tetapi dengan harga terjangkau. Waduh tambah abstrak aja jawabannya, definisi terjangkau itu apa ya ? jawaban seperti ini cuma jawaban diplomatis menurut saya.Kok nggak ada ya partai yang mengkampanyekan efisiensi pengeluaran rumah tangga agar punya anggaran lebih. Klo gini kan harga sembako tetap seperti saat ini pun tak akan masalah karena penghasilan rakyat untuk membeli sembakolah yang bertambah.

Saya kira kalau "partai-partai" kita mau memberikan iklan yang “sensasional” bahwa langkah kecil ternyata bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat daripada ngomong sana-sini mau ngasih sembako murah yang konsepnya aja masih abstrak itu akan lebih “punya kesempatan” untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Rabu, 25 Juni 2008

Aku demo, Mobil KU Bakar

Edan, bener-bener udah edan kayaknya mahasiswa jaman sekarang. Katanya sih mau bela kepentingan rakyat gitu. Mahasiswa pada demo sana-sini, "ini untuk memperjuangkan nasib rakyat", "ini untuk itu dan sebagainya".

Emang kalau meperjuangkan nasib rakyat harus bakar ban ditengah jalan ya ?. Klo mau memperjuangkan kepentingan rakyat itu ya harus blokir jalan biar rakyat sama pejabatnya nggak bisa lewat ya ? klo mau berjuang atas nama rakyat itu klo ketemu polisi alasannya apapun harus digebuki ya ? Klo merusak barang milik negra itu juga harus dilakukan ya ? Klo mahasiswa-mahasiswa yang nunjukin pantatnya di TV ke polisi itu untuk memperjuankan nasib rakyat ya ? Rakyat disini mah makan nasi, bukan pantat euy.

Dan alasan klasiknya lagi tuh ya mahasiswa sukanya bilang gini : "Padahal pasca reformasi seperti ini aparat polisi dituntut tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan yang melanggar HAM ketika melakukan aksi demonstrasi" (kata ketua PIJAR seingatku ).

Lho yang melanggar HAM duluan itu siapa ya ?
Kalau mahasiswa blokir jalan umum itu melanggar HAM nggak ya ? Klo mahasiswa melakukan aksi anarkis itu nggak melanggar HAM tho tapi kalau polisi ya melanggar gitu ya ?

Mas-mas mahasiswa nggak ngelihat apa kalau kalian-kalian itu sekarang dah pada dibenci masyarakat. Lihat aja tuh polling-polling diberita. Terus yang mahasiswa-mahasiswa bela ini siapa ?